Sejak 1 Juli 1929

Jejak panjang
membentuk masa depan.

Dari 20 murid di awal perjalanan hingga menjadi sekolah yang terus bertumbuh, Karangturi hadir dengan satu semangat: mendidik generasi yang siap melangkah lebih jauh.

1929

Tahun berdiri

20

Murid pertama

97 Tahun

Perjalanan pendidikan

Satu sekolah, lintas generasi

Tumbuh bersama perubahan zaman.

Sekolah Nasional Karangturi telah berkiprah puluhan tahun dalam mendukung kemajuan bangsa Indonesia. Berdiri pada 1 Juli 1929 dengan nama H.C.S Chung Hwa Hui, sekolah ini diprakarsai oleh The Sien Tjo dan memulai perjalanannya dengan hanya 20 murid.

Dari masa pendudukan, perubahan status sekolah, perkembangan yayasan, pembangunan kampus baru, hingga transformasi menuju pendidikan global, setiap periode menjadi bagian penting dari identitas Karangturi hari ini.

1 Juli 1929

Awal berdiri sebagai H.C.S Chung Hwa Hui

15 Nov.

Hari lahir organisasi siswa Chung Hwa Chung Sheng Hui

9.020 m²

Lahan kampus SMP/SMA di Jalan Raden Patah

7,8 ha

Lahan kampus Graha Padma sejak 2016

Linimasa

Tonggak yang membentuk Karangturi.

Perjalanan ini bukan hanya tentang pergantian nama atau gedung, tetapi tentang kemampuan sekolah untuk bertahan, menyesuaikan diri, dan terus mengembangkan mutu pendidikan dari generasi ke generasi.

1929

Awal perjalanan

H.C.S Chung Hwa Hui berdiri pada 1 Juli 1929 atas prakarsa The Sien Tjo, dengan 20 murid sebagai angkatan awal.

1940-an

Dua lokasi pada masa pendudukan Jepang

Sekolah terbagi menjadi Chung Hwa Hui A di Jalan Sidodadi dan Chung Hwa Hui B di Jalan Karangturi.

1946–49

Karangturi School

Pada 1 April 1946 sekolah berubah menjadi negeri dengan nama Karangturi School (A.L.S Karangturi), lalu kembali menjadi swasta pada 7 Februari 1949 dengan izin satu sekolah di Jalan Karangturi, yang kini dikenal sebagai Jalan Mataram.

1950

Penguatan organisasi & manajemen

Jajasan Sekolah Chung Hwa Hui didirikan dan dipimpin The Sien Tjo. Pada masa ini dibuka SMP lima kelas dan dibentuk organisasi siswa Chung Hwa Chung Sheng Hui, cikal bakal OSIS masa kini.

1963–87

Evolusi nama yayasan

Nama yayasan berkembang dari Jajasan Sekolah Karangturi (1963), Yayasan Sekolah Nasional Karang Turi (1970), Yayasan Sekolah Nasional Karangturi (1974), hingga menjadi Yayasan Pendidikan Nasional Karangturi pada 14 Maret 1987.

1972–1996

Membangun ruang untuk bertumbuh.

Pada periode 1972–1979, Karangturi melakukan renovasi gedung SMP/SMA lama sekaligus membangun gedung TK, SD, aula, ruang Tata Usaha, perpustakaan, laboratorium, serta kantor yayasan.

Untuk memenuhi persyaratan akreditasi dan mempertahankan status Disamakan, dibangun kampus baru tiga lantai dengan satu basement di lahan seluas 9.020 m² di Jalan Raden Patah 182–192.

Kampus ini mulai digunakan sejak 1996 dan menjadi salah satu tonggak penting modernisasi fasilitas sekolah.
2016

Babak baru di Graha Padma.

Pada 2016, SMP/SMA Karangturi berpindah ke Jalan Padma Boulevard Selatan Blok F, Komplek Perumahan Graha Padma.

Dengan luas lahan sekitar 7,8 hektar, kampus ini menandai fase baru Karangturi dalam menyediakan ruang belajar yang lebih luas, modern, dan adaptif terhadap kebutuhan pendidikan masa kini.
Warisan yang terus hidup

Tradisi prestasi, karakter, dan keberanian untuk berkembang.

01

Berwawasan Global

Karangturi terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia, terutama dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan internasional.

02

Jiwa Kewirausahaan

Sekolah mendorong peserta didik untuk berinisiatif, kreatif, berani melihat peluang, dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuat.
03

Prestasi yang Beragam

Prestasi akademik dan non-akademik terus berkembang, termasuk paduan suara, bola basket, cheerleaders, serta penerimaan alumni di universitas ternama dalam dan luar negeri.
1929 → Hari ini

Hampir satu abad, tetap bergerak ke depan.

Perjalanan panjang Karangturi melahirkan banyak siswa berprestasi dan alumni yang berkiprah di berbagai bidang, termasuk tokoh nasional seperti Jaya Suprana, Kwik Kian Gie, dan Jongkie Tio. Kini, Karangturi terus melanjutkan tradisi tersebut melalui pendidikan yang relevan, adaptif, dan memberi ruang bagi setiap anak untuk menemukan potensinya.