SEHARI BERSAMA PROF. SLAMET PH, MA, MEd, MA, MLHR, Ph.D

Memasuki tahun ajaran  2011- 2012 pada hari Sabtu, 16 Juli 2011 SMP Karangturi mengadakan IHT ( In House Trainning )  “Pembelajaran Yang Memberdayakan Siswa”. Workshop sehari ini diikuti oleh 45 orang terdiri dari:  guru,  staf pimpinan dan karyawan SMP Karangturi dengan menghadirkan Prof. Slamet PH, MA, MEd, MA, MLHR, Ph.D. Beliau adalah guru besar Universitas Negeri Yogyakarta. Workshop ini merupakan salah satu isi kegiatan rutin yang diadakan sebagai upaya untuk mengembangkan dan memberdayakan para guru dan karyawan agar makin maksimal dalam mengembangkan talenta pelayanannya kepada siswa, orangtua dan masyarakat.

IHT - Pembelajaran Yang Memberdayakan Siswa

Tema IHT kali ini, “Pembelajaran Yang Memberdayakan Siswa”, yaitu suatu pembelajaran yang mampu membuat siswa merdeka (tidak terbebani), imajinatif, kreatif, inovatif, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, mampu belajar cara belajar, mampu menyelesaikan masalah, berpikir besar, termotivasi, aktif, inspiratif, tertantang, nyaman dalam belajar, pro-perubahan, berkecerdasan majemuk, mampu bersaing tetapi tetap menjunjung tinggi nilai solidaritas, memiliki integritas tinggi, profesional, mandiri, berkarakter atau memiliki budi pekerti luhur, berbudaya, berkemanusiaan, beradab, memiliki visi, berpikir sistem, dan melakukan eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru yang tidak tertambat pada tradisi / kebiasaan pembelajaran yang mementingkan memorisasi dan ingatan.

Prof. Slamet PH,MA,MEd,MA,MLHR,Ph

Prof. Slamet mengajak seluruh peserta untuk secara jujur mengakui bahwa proses pembelajaran dan pengajaran yang dilakukan para guru masih cenderung pada porsi guru aktif siswa pasif, guru memberi siswa menerima, dan guru menjelaskan siswa mendengarkan. Interaksi guru dengan siswa sedemikian lemahnya, sehingga pembelajaran belum mampu menumbuhkan rasa keingintahuan, daya kritis, daya kreasi, daya inovasi dan belum mengaktualkan potensi siswa secara optimal. Selain itu pembelajaran saat ini masih lebih mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh guru. Tidak ada keterbukaan dan demokrasi dalam proses pembelajaran, serta tidak ada toleransi pada kekeliruan akibat kreativitas berpikir, karena yang benar adalah apa yang dipersepsikan benar oleh guru. Pembelajaran saat ini masih cenderung memberi dari pada memberdayakan, kurang memberikan peluang bagi peserta didik untuk mengaktualkan potensinya, baik intelektual, spiritual, emosional, estetikal maupun physical peserta didik.

Bagaimana menyikapi kelemahan dunia pendidikan kita dewasa ini?, Prof Slamet lebih lanjut mengajak kita untuk memperhatikan tujuan pengembangan manusia, yang meliputi pengembangan manusia melalui: pendidikan, pelatihan, pengalaman, kebiasaan dan belajar mandiri. Selain itu juga melalui peningkatan kualitas, seperti: intelektual, spiritual, moral, estetikal, kinestetikal dan ipteksor. Akhirnya soal peningkatan pilihan hidup pun perlu kita perhatikan, seperti: karir, pengaruh, penghasilan, prestise, kesehatan mental, harapan hidup , kesehatan fisik, aktualisasi diri maupun kenikmatan hidup.

Sedikit keterlambatan dimulainya workshop tidak mengurangi semangat para peserta untuk mengikuti seluruh acara secara serius dari awal sampai akhir. Acara berakhir pada pukul 16.30 waktu Indonesia bagian barat.  (tien_dikar)